Home » 2018 » November » 15

Daily Archives: November 15, 2018

SENJAYAN BERKARYA, TIDAK MENGENAL BATAS USIA

By

Aini Fitri

Itulah istilah paling tepat untuk menggambarkan kobaran semangat dari para ibu PKK & Fatayat di Dusun Senjayan. Ditengah kesibukan mereka sebagai ibu rumah tangga mereka rela meluangkan waktu nya untuk mengikuti pelatihan pembuatan sulam 🎀 yang diselenggara kan oleh peserta KPM Pokja Senjayan. Waktu dua hari yang telah disiapkan untuk menyelesaikan sulam 🎀 terebut sangat dimanfaatkan dengan baik oleh peserta Pelatihan. Bahkan, disela-sela aktifitas mereka seperti menjaga toko, menunggu anak sekolah ataupun waktu luang dirumah mereka gunakan untuk membuat sulam pita tersebut.

Pelatihan sulam pita ini, bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dari ibu PKK &Fatayat sekaligus bentuk pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat Dusun Senjayan.

Sulam pita ini, sebenarnya tidak hanya dapat diterapkan dijilbab saja, akan tetapi bisa dalam bentuk karya yang lain, seperti mukena, taplak, kotak tisu, Dll. Namun, dalam pelatihan kali ini Pokja Senjayan memilih kerudung sebagai media untuk pelatihan sulam pita karena hasilnya nanti dapat langsung digunakan oleh ibu-ibu tersebut. Terlebih lagi kerudung yang digunakan disesuaikan dengan seragam ibu PKK & Fatayat yang ada di Senjayan.

Satu hal yang membuat bangga adalah antusias ibu-ibu yang berencana menggunakan hasil karyanya ketika senam di balai desa dan pada saat penutupan KPM.

Senjayan, 15 Nopember 2018

Malam Jumat Bersama Muslimat NU Kedungglugu

By :
Maryam Habibi

Selepas maghrib kamis petang malam jumat kali ini, 15 Nopember 2018, ada pemandangan sedikit berbeda. Pengajian rutin Muslimat NU Kedungglugu berjalan dengan pengisi acara dari mahasiswi KPM STAIDA.

Mulai dari tugas pembawa acara, pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an hingga mauidzah hasanah, semuanya diserahkan pada mereka. Sebuah bentuk apresiasi yang patut diacungi jempol.

Tidak hanya itu, jenis jajanan yang disuguhkan salah satunya adalah Jongkong, jajanan hitam manis gurih berpewarna alami klaras atau daun pisang yang nota bene baru saja dikenalkan oleh mahasiswa KPM pada ibu-ibu pada pelatihan life skill sebelumnya.

Suasana guyub rukun ini menjadi tanda bersemainya kegiatan sosial kemasyarakatan dan keagamaan di Kedungglugu, desa dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Akses jalan yang rusak, warga yang jauh dari keramaian pedagang kaki lima dan sebagainya membuat warga dusun enggan keluar susun selain untuk kebutuhan yang mendesak saja.

Pengalaman mahasiswa KPM kali ini sangatlah berharga. Bagaimana mereka belajar bermasyarakat dan bagimana belajar menghadapi berbagai problema riil di masyarakat yang belum tentu mereka peroleh di bangku kuliah.

Semoga sepuluh hari ini bukanlah akhir dari silaturahim ini. Jadikan waktu singkat ini sebagai awal dari semangat warga dalam membangun desa. Dan itu akan dimulai dari pendirian Rumah Baca Alam Al-‘Aly di Kedungglugu, suatu bentuk sinergitas STAI Darussalam dan warga desa.

Kedungglugu, 15 Nopember 2018.

Karya Mahasiswa

previous arrow
next arrow
Slider

Kreasi Kalangan

salah satu bentuk pengabdian adalah hasil karya yang mampu mendokrak pendapatan dan meningkatkan ekonomi masyrakat. hal ini dibuktikan dengan karya salah satu daerah binaan KPM STAIDA 2018 dari Kalangan. pemberdayaan berupa souvenir KPM STAIDA 2018, adalah karya mandiri dari Mahasiswa. karya ini mendapat apresiasi dari berbagai pihak. ternyata walau berlatar belakang keagamaan, tidak menjadi halangan bagi mahasiswa untuk berkreasi dari bidang ekonomi.

Alhamdulillah karya mahasiswa kalangan berhasil diciptakan, cindramata siap dijadikan aset ekonomi masyarakat kalangan untuk membawa perubahan sosial, agama n ekonomi.

Kolaborasi Dosen dan Mahasiswa KPM STAIDA 2018

Belajar dari Bawah

By

Muarrifah

belajarlah dari kesalahan orang lain karena kamu tidak dapat hidup cukup lama untuk melakukan semua kesalahan itu sendiri
Anonimous

Sepenggal nasihat tersebut probabilitasnya sama seperti yang dialami mahasiswi KPM STAI Darussalam kelompok kerja Kedungglugu.

Interaksi intens dengan masyarakat, kegiatan yang banyak berhubungan dengan mereka membuat mahasiswi belajar tentang sisi lain kehidupan yang belum pernah mereka temui.

Ibu-ibu yang masih mau belajar al qur’an di usia yang tidak lagi muda menumbuhkan kesan mendalam bagi mahasiswi. Seringkali mereka mengatakan bahwa malu karena harus belajar pada yang jauh lebih muda dan menyesal tidak mengenal al qur’an sejak lama. Akan tetapi semangat belajar mengalahkan perasaan lain yang timbul.

Di pertemuan kedua mendampingi ibu-ibu hebat ini, mereka meminta tausyiah singkat dari mahasiswi, berharap mendapat pengetahuan baru yang tidak mereka dapatkan di lingkungannya.

Dengan melawan rasa canggung dan takut akhirnya permintaan tersebut terpenuhi. Sambil belajar, mahasiswi memberikan tausyiah singkat di setiap pertemuan.

Dipertemukan dengan jam’iyah ibu-ibu ini seperti melihat ke lorong waktu, yang terjadi hari ini adalah buah dari proses di masa lalu. Pembelajaran, pengalaman yang tidak perlu kita alami sendiri adalah hikmahnya.
Tidak perlu menunggu beberapa puluh tahun kedepan untuk tau jadi apa kita nanti. Semua bisa kita tentukan hari ini.

Kedungglugu, 14 Nopember 2018

Permulaan dari Sebuah Akhir

By :

Maratus Sholikah

 

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) adalah suatu program dalam menerapkan ilmu pengetahun yang kita miliki baik berupa teknologi, seni, pendidikan atau ekonomi dalam upaya meningkatkan kualitas bangsa ini. Adanya komitmen didalam melaksanakam PKM ini, salah satunya kerjasama dengan komponen masyarakat yang akan dibantu atau diberdayakan dalam program yang kita miliki.

Sesuai dengan hal tersebut, salah satu Asisten Dosen Stai Darussalam Nganjuk mencoba untuk membuat proposal PKM dan kemudian menggali data sesuai dengan keperluan yang inginkan. Satu bulan berlalu dengan persiapan, perencanaan, pelaksanaan, dan monitoring. Tepatnya PKM ini berjudul Pendampingan Guru Madrasah Diniyah dan TPQ melalui Pelatihan Pembelajaran Metode Tilawati di Dusun Kedunggalih Desa Kedungglugu Kecamatan Gondang Kabupaten Nganjuk.

Berawal dari ketertarikan kami terhadap salah satu aset Institusi yang ada di Dusun Kedunggalih ini yakni TPQ dan Madin Al Hikmah, di mana santrinya cukup banyak. Hanya saja pembelajaran yang dilaksanakan belum dapat mencapai target untuk hasil yang sesuai dengan visi misi dari lembaga tersebut.

Mengapa kami mengambil judul tersebut, karena dari analisa kami ketika lembaga tersebut memiliki satu metode membaca Al Quran yang dikuasi maka besar kemungkinan problematika dari lembaga tersebut satu persatu akan terselesaikan. Mulai dari sisi santrinya, pembiyaannya, kualiyas usztdz ustdzahnya, dan komponen lainnya.

Alhamdulillah awal dari tindak lanjut proposal PKM ini sudah selesai. Pendampingan selama dua hari telah berlalu. Program ini berjalan sesuai dengan rencana kami, bahkan tanpa disangka ditengan pembelajaran pada hari pertama pendampingan hadir peserta baru yang sebelumnya tidak terdata.

Seusai pendampingan di hari kedua, salah satu peserta menyatakan,
“Jika dibilang kurang ya kurang, maunya setiap hari belajar bersama,, agar menguasai seutuhnya” Ujar Pak Jupri selaku Kepala Lembaga tersebut.

Hari ini sekaligus pemberian tali asih dari mahasiswi peserta Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) pada salah satu subyek dampingan mereka pada santri Madin dan TPQ al-Hikmah.

Meraka mengharap follow tindak lanjut dari program tersebut. Kami sangat senang sekali mendengar harapan dari para peserta. Semoga hal tersebut dapat kami realisasikan.

PKM itu mudah. Mengabdi pada masyarakat itu tugas kami. Masyarakat butuh uluran tangan para ilmuan. Siap berjuang untuk membumikan pengetahuan.

Kedunggalih, 13 November 2018

LAGI, PROGRAM II POKJA PILANGGLENTENG SUKSES DIGELAR

By :

Yusuf Hamidi

Setelah sukses menyelenggarakan program I bidang sosial dengan tema Revitalisasi seni islami sebagai media da’wah beserta ibu-ibu, karangtaruna putri dan anak-anak, Pokja Pilangglenteng (PeGe) kembali menggelar program berikutnya, kini sasaran yang dibidik adalah tenaga pendidik dan manejerial TPQ dampingan.

Dengan sisa semangat yang tetap mengembara di sela-sela padatnya kegiatan, program ke II mengusung tema Peningkatan Kompetensi Guru dan Manajerial TPQ al Maghfirah dengan kemasan workshop. Acara ini dihadiri oleh beberapa unsur di antaranya dari unsur guru sebanyak sembilan orang, unsur togamas tiga orang dan juga diikuti oleh segenap perserta KPM Staida 2018.

Dalam pelaksanaannya, sengaja workshop digelar pada malam hari selepas shalat isya’ dikarenakan para peserta mayoritas bermata pencaharian petani sehingga mereka sibuk di sawah pada siang dan sore harinya.

Dari workshop ini, Pihak pengelola TPQ menginginkan para pendidik memiliki keahlian di bidang pengajaran dan pendidikan yang mutakhir dan modern, sehingga para guru terdidik itu dapat mengabdi layaknya guru proffesional.

Selain peningkatan kompetensi guru, juga disentuh tentang tata kelola keadministrasian yang berbentuk pendampingan, karena yang ke dua tidak cukup hanya dalam waktu semalam.

Pihak pengelola TPQ juga ingin mengetahui secara detail tentang gambaran serta perbedaan antara TPQ dan Madin, karena sebagaimana diketahui bersama, TPQ yang mengasuh santri sejumlah sembilan puluh dua anak dan diasuh sembilan pendidik ini hingga kini belum mengantongi ijin operasional dari dinas terkait. Hal itu yang mendorong kesemangatan Pokja PeGe untuk memilih program ini.

Dalam acara tersebut, Pokja PeGe mengundang pemateri yang memiliki kapasitas andal di bidangnya masing-masing. Bidang kompetensi guru diisi oleh Bp. Ahmad Saifuddin, M.PdI. Pengelola sekaligus guru TPQ ini juga masih tercatat sebagai dosen tetap STAIDA. Beliau memaparkan banyak hal secara operasional dan tehnis yang berlaku di TPQ.

Dalam bidang ke-Madin-an, Pokja PeGe mendatangkan langsung pengurus Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Kabupaten Nganjuk, Moh. Bisri, S.PdI. Selain memaparkan beberapa hal tentang perbedaan-perbedaan antara TPQ dan Madin, alumnus Krempyang ini juga menjelaskan secara detail tentang jenjang-jenjang yang ada di Madin dan juga dipaparkan berkaitan dengan teknis pengajuan ijin operasional Madin.

Dalam acara yang dikemas santai ini juga dibuka diskusi antara pemateri dengan para guru. Dengan semangat dan antusias para pengurus dan guru mengutarakan segala problematika operasional dalam pelaksanaan pembelajaran sehari-hari.

Semoga dengan terselenggaranya acara ini, semua hajat dapat terpenuhi baik dari program peserta KPM, PKM dosen, guru-guru TPQ dan Madin serta tenaga Manajerial.

PeGe. 14/11/2018
PeGe.jaya

SEMANGATMU MENDAHULUIKU

By :

Yusuf Hamidi

Disiplin yang tinggi dan semangat 45 yang dimiliki masyarakat dampingan Pokja Pilangglenteng (PeGe) dalam setiap melakukan kegiatan keagamaan memang patut untuk dijadikan suri tauladan. Entah apa yang memotivasi mereka hingga menjadi demikian. Para mahasiswa harus belajar banyak terkait hal itu kepada masyarakat PeGe.

Kepatuhan serta loyalitas warga setempat pada pimpinan seolah menegaskan pesan pengasuh saat bimtek peserta KPM tempo hari. Para mahasiswa seolah dihadapkan langsung pada kasuistik “Atii’u Ulil Amri” tanpa mengenal batasan usia dan strata akademik, sekali yang dituakan bilang A, maka A yang dilakukan dan begitu seterusnya.

Pada satu waktu para mahasisswa hendak menjalankan kerja bhakti bersama warga untuk persiapan lailatul ijtima’ tingkat kecamatan, waktu telah disepakati dan diputuskan pukul 14.00 mulai, namun karena pagi hari mahasiswa baksos di area publik lain, kelelahanpun menyerang mereka dan baru berangkat pukul 14.30.

Keterlambatan itu menjadikan terlambat pula kerja bhakti mereka, karena sesampainya peserta KPM di masjid, semua warga telah duduk santai menikmati hidangan yang telah disiapkan oleh ibu-ibu dan kerja bhakti pun telah usai tanpa peserta KPM.

Akhirnya para peserta KPM beralih pada area kamar mandi untuk dibersihkan sesaat setelah mereka bercengkerama dengan warga sambil menahan malu. Semoga dengan kejadian ini para mahasiswa dapat mengambil pelajaran tentang kedisiplinan dan kesemangatan mengabdi pada masyarakat. Amin

Pilangglenteng, 13/11/2018